filsafat olahraga
Pengertian Filsafat Olahraga
Filsafat/filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan, tetapi arti kata ini belum menampakkan arti filsafat sendiri karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif. Pada hal dalam pengertian filosoftein terkandung sifat yang aktif. Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika moral, estetika seni, sosial dan politik, epistemology tentang asal pengetahuan, ontology tentang manusia, dll.
Secara etimologis, filsafat diambil dari bahasa Arab, falsafah-berasal dari bahasa Yunani, Philosophia, kata majemuk yang berasal dari kata Philos yang artinya cinta atau suka, dan kata Sophia yang artinya bijaksana. Dengan demikian secara etimologis, filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan. Di dalam Encyclopedia of philosophy Berdasarkan kutipan tersebut dapat di ketahui bahwa filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kebijakan atau untuk menjadi bijak. Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang yang memberikan pengertian. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi retsebut :
• Plato,Ia seorang filsuf Yunani terkenal, gurunya Aristoteles, ia sendiri berguru kepada Socrates. Ia mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli.
•Aristoteles, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
Filsafat, terutama filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan, dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka, dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani, dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan Plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito". Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Plato (sebelah kiri) dan Aristotle (kanan), menurut lukisan Raffaelo Sanzio pada tahun 1509. Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis, dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah, dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Timur Tengah. Sedangkan menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Istilah “olahraga” sebenarnya bukan terjemahan langsung dari istilah “sport” yang berasal dari bahasa ingris. Olahraga berasal dari bahasa jawa “Olah” yang berarti berlatih atau melakukan kegiatan; dan “Raga” yang berarti fisik atau jasmani. Berolahraga berarti melakukan aktivitas fisik.
Dari perspektif elit-kompetitif, olahraga diartikan sebagai aktivitas yang melibatkan power dan skil, kompetisi, strategi, dan atau keberuntungan, yang dilakukan dalam rangka meraih kesenangan, kepuasan dan atau keuntungan pribadi seperti uang, dalam bentuk kegiatan yang terorganisir.
Jadi olahraga didefinisikan sebagai segalah aktivitas fisik yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan social budaya. Dengan batasan tersebut, kegiatan fisik seperti berjalan ke pasar, bersepeda ke tempat kerja, mencangkul di dawah, dan sebagainya yang memang tidak di sengaja untuk mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial bukan termasuk olahraga.
Para filosof melihat kondisi demikian kemudian berpikir dan melawan kaum sofis ini dengan menngemukakan argumentasi bahwa kebaikan dan kebenaran itu ada yang bersifat umum, misalnya menolong dan selainnya. Muncullah Socrates yang membela kebenaran umum.
Pengertian filsafat dari segi istilah, sangat beragam. Keragaman tersebut disebabkan oleh keragaman pemikiran dan perbedaan sudut pandang ketika melihat suatu objek filsafat. Berkenaan dengan pengertian filsafat tersebut, kita bisa menggunakan dan mengcarikannya dengan pendekatan filosofis. Tentunya, jika hal itu yang dipergunakan, maka sangat wajar pendefinisian tentang filsafat sangat beragam dan bervariasi, baik dari segi makna maupun ruang lingkupnya.
Filsafat, dalam hal ini dianggap memiliki tanggung jawab penting dalam mempersatukan berbagai kajian ilmu untuk dirumuskan secara padu dan mengakar menuju Ilmu Keolahragaan dalam tiga dimensi ilmiahnya (ontologi, epistemologi dan aksiologi) yang kokoh dan sejajar dengan ilmu lain. Relevansi filsafati ini pada gilirannya mensyaratkan pula komunikasi lintas, inter, dan multidisipliner ilmu-ilmu terkait dalam upaya menjawab persoalan dan tantangan yang muncul dari fenomena keolahragaan. Dengan kata lain, proses timbal balik yang sinergis antara khasanah keilmuan dan wilayah praksis muncul, dan menjadi tanggung jawab filsafat untuk mengkritisi, memetakan dan memadukan hal tersebut. Filsafat Ilmu Keolahragaan, dengan titik tekan utama pada tiga dimensi keilmuan ini – ontologi, epistemologi, aksiologi – mengeksplorasi Ilmu Keolahragaan ini secara mengakar, sehingga fenomena-fenomena yang terjadi dalam olahraga dapat memadukan beberapa dimensi yang ada.
Ruang Lingkup Filsafat Olahraga
Dalam bidang filsafat, upaya untuk mengisi pemikiran yang tidak atau belum dilakukan oleh orang lain adalah biasa, upaya itu dilakukan dalam rangka mengisi ruang-ruang kosong agar mencapai kesempurnaan. Upaya menjelaskan nilai dengan kondisi psikologis, dengan objek ideal dan dengan status benda bukan berarti ingin mengurangi hakikat nilai, akan tetapi mencoba mengisi relung-relung kosong yang belum tersentuh, sehingga dapat menjelaskan sisi nilai yang lain. Yang menjadi persoalan, ketika relung-relung kosong itu diisi sering memperkecil makna nilai yang dijelaskan, sehingga nilai itu seolah-olah hanya merupakan kondisi psikologis, atau hanya merupakan objek idela dan/atau hanya status benda saja, sebenarnya nilai itu dapat dan harus menyentuh seluruhnya, akan tetapi sudt padang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula. Oleh karena itulah pendefinisian nilai sangat bervariasi. Namun ada yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas, nilai itu penting bagi manusia, apakah nilai itu dipandang dapat mendorong manusia karena dianggap berada dalam diri manusia atau nilai itu marik manusia karena ada di luar manusia yaitu terdapat pada objek, sehingga nilai lebih dipandang sebagai kegiatan menilai.
Dalam hubungan ini pendidikan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar) tidak mempersoalkan dari mana niali tersebut, tetapi lebih memperhatikan pentingnya nilai itu bagi manusia dalam kehidupan oleh individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Setiap individu harus memahami nilai dan kebernilaian dirinya, sehingga dia akan menempatkan diri secara bijak dalam pergaulan hidup serta akan mengakui dan bijak terhadap keberadaan nilai dan kebernilain orang lain dalam pergaulan bermasyarakat. Yang penting dalam upaya pendidikan, keyakinan individu pada nilai harus menyentuh sampai hierarki nilai tertinggi, sebab seperti yang diungkapkan oleh Shaller
1. Nilai tertinggi menghasilkan kepuasan yang lebih mendalam.
2. Kepuasan jangan dikatakan dengan kenikmatan (meskipun kenikmatan merupakan hasil kepuasan).
3. Semakin kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaannya, nilai tertinggi dari semua nilai adalah nilai mutlak.
Pengertian Sportivitas dan Kontribusi
Secara umum sportivitas diidentifikasikan sebagai perilaku yangmenunjukan sikap hormat dan adil terhadap orang lain serta sikap menerima dengan baik apapun hasil dari suatu pertandingan (Beller&Stoll, 1993: 75). National Collegiate Athletic Association (NCAA, dalam Jay.D Goldstein & S.E Iso-Ahola, 2006: 18) mendefinisikan sportivitas sebagai perilaku yang ditunjukan oleh atlet, pelatih, administrator dan penonton dalam kompetisi atletik. Perilaku-perilaku ini didasari oleh nilai-nilai penting seperti hormat,
adil, beradap, jujur dan tanggung jawab.
Pengertian lain dari sportivitas adalah sikap dan perilaku yang ditunjukan oleh individu dalam setting olahraga yang menunjukan penghormatan terhadap aturan, official, konvesi sosial dan hormat pada lawan yang diikuti dengan komitmen terhadap olahraga itu sendiri dan tidak melakukan partisipasi olahraga yang negatif (Vallerand, Biere, Blanchard & Provencher dalam Lynn E.Mc Cutchheon, 1999: 439). Individu yang memiliki sportivitas yang baik akan perilaku seperti jabat tangan dengan lawan, memberikan dukungan baik kepada teman satu tim maupun lawan, mau memberikan selamat kepada lawan yang menunjukan performansi yang baik, dan menunjukkan usaha maksimum dalam bermain dan berlatih.
Berdasar pada definisi tersebut di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa sportivitas adalah perilaku individu yang menunjukan sikap dan perilaku yang menghormati setiap aspek dalam olahraga, baik pihak terkait, peraturan, maupun etika dalam bermain.
Kemudian, komitmen dan kontribusi dalam sportivitas yang digambarkan orang yang memiliki sportivitas yang baik adalah memberikan usaha maksimal, kerja keras dan bersungguh di setiap latihan dan pertandingan, berpikir akan cara memperbaiki performa sebelumnya, mengakui keunggulan lawan dan sebagainya. Konvensi sosial merujuk pada penghormatan terhadap etika sosial yang terkait dalam olahraga. Indikator dari konvensi sosial yaitu:
1. Menghargai dan menghormati lawan
2. Individu dapat menerima suatu kekalahan
3. Mengakui keunggulan lawan.
Perilaku yang menunjukan konvensi sosial seperti berjabat tangan dengan lawan setelah pertandingan selesai, bertegur sapa dengan lawan, mengakui permainan lawan lebih baik, dan menjadi pemenang yang ramah atau kalah dengan terhormat dalam suatu pertandingan.